Sarasehan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Indonesia, Rektor Harapkan Peningkatan Kerja Sama Antar Perguruan Tinggi

WhatsApp Image 2021-10-29 at 13.41.27

MEDAN-HUMAS USU: Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Dr Muryanto Amin, S Sos, M Si secara resmi membuka kegiatan sarasehan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan se-Indonesia pada Jumat (29/10/2021), di Gedung Auditorium USU. Kegiatan tersebut dihadiri para wakil rektor bidang kemahasiswaan pada perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Pada pertemuan tersebut, Rektor USU menyampaikan, sarasehan ini menjadi wadah komunikasi untuk dapat memberikan referensi dan masukan terkait kebijakan kampus. Ia menekankan setiap perguruan tinggi memiliki cara masing-masing dalam mengelola bidang kemahasiswaan.
“Setiap perguruan tinggi memiliki cara tersendiri dalam mengelola bidang kemahasiswaan. Melalui sarasehan ini akan terjadi pertukaran informasi, sharing experience, sharing knowledge. Dari hal itu bisa menjadi referensi bagi kita untuk dapat menetapkan kebijakan terkait kemahasiswaan,” kata Rektor USU.
Ia menyadari jika ada banyak kendala yang dihadapi oleh perguruan tinggi saat ini. Terkhusus ia membahas upaya implementasi program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka yang dicanangkan oleh Kemendikbud Ristek.
“Saat ini banyak kendala yang sedang kita hadapi. Salah satunya upaya pelaksanaan program MBKM. Kita sudah mendengar jika di tahun-tahun awal pelaksanaan ini akan terjadi banyak kendala. Melalui sarasehan dapat kita diskusikan akselerasi penyelesaian setiap kendala tersebut,” ujarnya.
Kerja sama antar perguruan tinggi harus terus ditingkatkan dan dirumuskan kembali dengan menyatukan pemikiran dan persepsi antar perguruan tinggi. Ruang-ruang edukasi virtual kolaboratif dalam koridor tridharma harus dibangun dan ditata ulang dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada di masing-masing perguruan tinggi.
Dosen praktisi sebagai amanat dalam pelaksanaan program MBKM juga menurutnya memerlukan penanganan dan kebijakan yang tepat. Bukan tanpa sebab, kehadiran dosen praktisi tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda mengingat mereka merupakan praktisi yang berasal dari berbagai instansi.
“Dosen praktisi ini juga harus kita sikapi dengan bijak. Dosen praktisi yang dalam program MBKM diharapkan dapat memberikan keilmuan bagi mahasiswa. Namun, praktiknya hal ini perlu untuk kita diskusikan agar memberikan panduan perihal dosen praktisi,” sambungnya.
Muryanto menegaskan jika pelaksanaan MBKM ini memberikan dampak pada pelaksanaan PIMNAS. Menurutnya, pelaksanaan MBKM menambah pengetahuan mahasiswa yang nantinya dapat mereka tuang dalam ide dan gagasan yang diperlombakan pada PIMNAS.
“Melalui MBKM akan banyak pengetahuan yang diperoleh oleh mahasiswa. Berbagai pengetahuan itu untuk meningkatkan inovasi mahasiswa yang dapat mereka tuangkan dalam bentuk ide dan gagasan untuk diperlombakan pada PIMNAS,” ujarnya. (RR/RJ)